Okay, setelah sekian lamanya tak bersua dengan blog ku yang satu ini,
Entah kenapa tiba-tiba saja terpikir untuk menulis...
Kali ini aku mau membahas sebuah film. Jadi sedikit banyak mirip seperti resensi film kali ya? Yah, meskipun bukan dari sudut pandang seorang ahli cinematography, tapi sebagai penikmat dan penggemar film, ada kalanya pengen ngasih opini boleh kan?? :)
Setelah marathon film yang udah aku tonton selama sebulan ini,
Secara lagi demen2nya download film, ngga sengaja nemu salah satu film ini di YouTube.
Sebelum download seperti biasa aku cari resensi ceritanya dulu. So far, sepertinya oke, karena ngga ada yang complain juga.. Jadilah aku download tuh film, dengan harapan memang bagus filmya.
Judul filmya, "The Blue Lagoon"
Film ini aku dapet dari rekomendasi IMDb untuk kategori film dewasa yang tanpa disuguhi adegan vulgar. Memang ada banyak judul yang ditawarkan, tapi rata2 ngga ada yang menyediakan free download nya hehehe maklum kan saya maunya yang gratisan behehehehe :P
Kenapa film ini menarik perhatian saya untuk mendownloadnya, adalah karena cerita ini ber-setting daratan Pasifik Selatan (South Pacific) yang notabene,sekarang aku tinggal disini. Jadi penasaran dong? Negara bagian mana kira2 yang dijadikan lokasi film ini diambil.
Tapi eh tapi, ternyata, disini sama sekali ngga dibahas sebenarnya mereka itu ada di Pasifik Selatan bagian mana? Errrrgggh...
Cerita singkatnya gini,
Pada suatu hari ada sebuah kapal laut yang berlayar kalau ngga salah mau ke San Francisco. Ditengah perjalanan, kapal mereka kebakaran. Sepertinya api berasal dari dapur kapal tersebut. Kebakaran seperti tidak dapat dicegah, karena seketika saja api mendadak menjadi besar. Semua penumpang kapal pun berhamburan menyelamatkan diri dengan sekoci seadanya.
Sialnya, ada satu keluarga yang terpisah dari orang tuanya. Lebih tepatnya dengan ayahnya. Karena di cerita tersebut sepertinya anak2 ini tidak memiliki ibu. Mereka berada di sekoci yang berbeda.
Ayah mereka ikut dengan sekoci yang berisi awak kapal yang semuanya orang dewasa. Sementara, kedua anaknya yang satu bernama Richard, dan yang perempuan saya lupa namanya hehe, mereka berada dalam sekoci yang lain, yang ditemani oleh salah seorang koki dari kapal tersebut. Jadi, di sekoci tersebut, mereka hanya bertiga saja.
Kebakaran di kapal tersebut semakin besar, hingga akhirnya membuat kapal tersebut perlahan-lahan tenggelam ke dasar lautan Pasifik. Hanya menyisakan asap tebal di sekitar lokasi. Kedua sekoci itu tentu saja mendayung sejauh-jauhnya dari kobaran api kapal yang terbakar tersebut.
Ketika seluruh badan kapal telah tenggelam dan hanya menyisakan asap tebal, ayah mereka berteriak memanggil nama mereka. Sebetulnya mereka pun mendengar teriakan ayahnya tersebut. Namun, karena asap yang sedikian tebal, sehingga sulit bagi mereka untuk mengetahui dimana sebenarnya keberadaan ayah mereka? Kedua sekoci itu terus mendayung dan mendayung. Sayangnya, mereka bukannya semakin mendekat, justru malah semakin menjauh. Dan akhirnya mereka benar-benar terpisah satu sama lainnya.
Sang koki kapal terus saja mendayung, hingga mereka menemukan sebuah pulau. Alangkah senangnya mereka. Setidaknya mereka tidak akan mati kelaparan dan kehausan di belantara samudera nan luas.
Akhirnya, mereka pun merapat ke pulau tersebut.
Disana, sang koki membuat tenda darurat yang terbuat dari anyaman pohon kelapa. Hingga malamnya, mereka membuat api unggun. Sebenarnya sang koki ini, awalnya sangat galak kepada kedua anak ini, karena mereka terlalu banyak bicara dan terus saja melontarkan banyak pertanyaan seperti lazimnya anak kecil. Belum lagi, tepat sebelum kapal mereka terbakar, kedua anak ini kedapatan sedang membuka koleksi foto porno milik sang koki di kamar tidurnya. Tapi, takdir berkata lain, sang koki justru sekarang malah harus berada dalam situasi dimana dia hanya akan bertiga saja dengan kedua bocah itu, setidaknya sampai mereka mendapat bantuan dari kapal lain yang mungkin akan kembali lewat.
Malam pertama, terlewati dengan tanpa masalah. Mereka bisa makan, tidur, dengan damai. Sebelumnya, dalam sekoci mereka, sempat membawa sebuah peti yang entah berisi apa, tak terlalu diperlihatkan ke penonton. Peti itu diambil saat mengapung di permukaan laut, tentu saja peti itu bersala dari kapal mereka juga.
Keesokan harinya, mereka mulai menjelajahi pulau itu. Ingin tahu apa saja yang bisa mereka peroleh dari dalam pulau tersebut. Ketika mereka mulai masuk ke dalam hutan. Ketika tiba-tiba saja si anak perempuan kedapatan sedang memakan buah berry yang entah dia dapat dari mana. Dengan serta merta sang koki membentak anak itu untuk memuntahkan buah itu. Dia berkata bahwa buah itu akan membuatnya tertidur dan tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya.
Di dalam hutan, mereka menemukan sebuah sungai dengan air terjun yang indah. Mereka sangat senang, bermain air layaknya anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. Hebatnya lagi, diatas air terjun, sang koki menembukan banyak sekali buah pisang. (FYI, di South Pacific itu buah pisang emang banyak banget, hehe)
Mereka makan buah, dan bermain air dengan riang gembira.
Keesokan harinya, sang koki berangkat sendiri kedalam hutan. Anak-anak menunggu di gubuk. Tanpa diduga, sang koki melihat ada sebuah patung besar ditengah hutan, dengan sebuah meja batu di depannya. Dia mengintip dari kejauhan, ternyata di atas meja batu tersebut ada potongan-potongan daging yang sepertiya adalah daging manusia. Sang koki kaget dan takut bukan kepalang. Ia berlari sekencang-kencangnya lagi ke arah pantai.
Sesampainya di gubuk mereka, sang koki berpesan agar jangan sampai mereka berani-berani masuk ke dalam hutan. Ia berkata di dalam hutan ada seorang monster jahat. Tentu saja kedua anak polos itu percaya begitu saja, dan mereka berjanji untuk tidak akan pernah berani memasuki hutan sendirian, maupun pergi ke pulau lainnya sekalipun.
Malam berlalu. Keesokan paginya, sang koki berenang ke pulau seberang. Namun, kedua anak ini tidak mengetahui bahwa sang koki sejak subuh sudah meninggalkan mereka bahkan sebelum mereka bangun tidur. Entah atas dasar apa sang koki pergi ke pulau seberang. Mungkin ia ingin mencari makanan tetapi tidak dijelaskan mengapa dan apa motivasinya berenang subuh2 ke pulau di seberang dari pulaunya bermalam.
Hingga siang, sang koki tidak kembali juga. Ketika anak2 ini bangun, mereka pun tentu saja mencari dimana keberadaan sang koki, akhirnya Richard berinisiatif untuk mencari sang koki ke pulau seberang dengan menggunakan sekoci. Sampai di pulau seberang bersama adiknya, ia menjumpai sang koki berada di pantai seperti sedang tertidur. Lalu mereka menggodanya. "Hei, bangun, bangun!" dengan sedikit tertawa-tawa.
Namun, saat membalikkan tubuh sang koki, ternyata sang koki telah tewas dengan mata melotot. Spontan sang adik pingsan di tempat. Karena merasa takut, Richard membawa adiknya, dan segera pergi meninggalkan pulau tersebut.
Keesokan paginya, Richard berusaha mencari ikan sendiri untuk mereka makan. Mereka berenang dengan bebas di pantai nan indah dengan dasar laut yang bening. Hari-hari berlalu. Mereka akhirnya sudah tumbuh menjadi sepasang remaja.
Hidup berdua di sebuah pantai. Kali ini, rumahnya sudah jauh lebih besar dari sebelumnya. Sang adik sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang selalu bergaun putih, dengan rambut panjang terurai. Mirip foto model.
Sedang Richard berpakaian ala koteka persis tarzan. Tetapi dengan rambut lebih pendek.
Hari-hari berlalu, samapi akhirnya mereka berdua jatuh hati. Dan pada suatu malam mera bercinta. Hingga akhirnya sang gadis hamil. Pernah suatu hari sang gadis main ke dalam hutan, Ia kemudian menemukan patung besar yang pernah dilihat oleh sang koki sebelumnya. Namun disana tidak ada orang sama sekali. Ia berpikir mungkin patung ini adalah Tuhan?
Akhirnya, pada kesempatan yang lain, ia memberi tahukan hal ini pada Richard. Mereka pun sesekali mendatangi patung itu. Hingga suatu malam, ia ingin mengunjungi "Tuhan"-nya. Ternyata disana sedang ada sebuat ritual suku pedalaman, dimana saat itu, dilakukan pula prosesi penumbalan. Mereka menyaksikan sendiri, seseorang di penggal kepalanya di atas meja batu.
Karena ketakutan, mereka berlari ke rumah.
Keesokan harinya, mereka menjalanai hari-hari seperti biasanya. Mencari ikan, dll. Hingga sang gadis melahirkan. Mereka pun memiliki anak sekarang.
Pada suatu hari, saat sang anak sudah mulai besar, kira-kira berusia setahun. Mereka naik sekoci kesayangannya itu entah mau kemana, kalau tidak salah mau ke pulau seberang. Tiba2 mereka baru menyadari ternyata, anak mereka sedang makan buah berry yang dahulu pernah dilarang oleh sang koki untuk memakannya.
Betapa kaget sang ibu melihat anaknya makan buah ini. Namun sayang, dia telah menelan buah tersebut sebagian. Dan tak lama kemudian sang anak tertidur. Karena merasa anak mereka mati, akhirnya sang ibu dan ayahnya (Richard) sama-sama makan buah itu, agar mereka mati bersama di atas sekoci itu.
Ternyata, ada sebuah kapal besar yang sedang berlayar. Di dalam kapal itu tamapak sesosok kakek tua yang sibuk melemparkan pandangannya ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu. Ternyata dia adalah ayah yang terpisah saat mereka kecil. Salah seorang awak kapal berteriak, "Ada kapal! Ada kapal!"
Kemudian kapal meraka pun berhenti dan mendekatinya dengan sekoci kecil. Ternyata isi dari kapal kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah anaknya, dan juga cucunya yang sedang memejamkan mata, bertiga.
Sang ayah bertanya pada salah satu awaknya,"Apakah mereka mati?" sang awak kapal menjawab, "Tidak Pak, mereka hanya tertidur"
Kemudian TAMAT
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Okay, sekarang ini pendapat saya ya.....
*peletekin jari dulu*
Panjang juga tuh sinopsis apa isi cerita semua ya? haha
Menurut saya film ini sangat membosankan. Tidak ada greget yang berarti. Coba bayangkan, di dalam sebuah pulau yang berisi suku kanibal, kenapa tidak diangkat cerita misalnya meraka tertangkap suku tersebut dan hampir saja menjadi tumbal?
Yang kedua, apa mungkin selama belasan tahun hidup di pulau itu tidak ada seorang pun penduduk pulau (suku) yang menemukan bahwa ada orang asing yang tinggal di pantai mereka? Apalagi dengan rumah yang lumayan besar?
Ketiga, dikisahkan mereka belum pernah masuk kedalam pulau, hanya berada di sekitar pantai saja sampai mereka dewasa, lalu bagaimana mungkin ia bisa membuat rumah dengan begitu besarnya? Terbuat dari kayu dan bambu. Apakah bambu adalah tanaman pantai? Bukan.
Keempat, dari mana sang gadis mendapatkan banyak sekali baju2 bagus? Apakah dari peti yang ditemukan saat mereka terdampar? Tidak dijelaskan.
Kelima, rambut sang gadis senantiasa rapi, memangnya dia punya sisir? Dia sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang telah lama terdampar dan jauh dari peradaban manusia. Coba lihat film "Cast Away" dengan aktornya Tom Hanks kalau tidak salah saya lupa, bagaimana ia jadi berubah menjadi hampir seperti orang gila, karena tidak punya temann bicara, tidak pernah mencukur rambut, membersihkan kumis dan jenggot..
Keenam, kematian sang koki di seberang pulau tidak dibahas hingga akhir cerita. Membuat penonton mati penasaran, sebenarnya apa penyebab kematiannya????
Ketujuh, yang paling fatal adalah, tidak diketahui sebenarnya apa hubungan antara dua orang ini. Apakah kakak adik? Sepupu? Hanya teman biasa? Ngga jelas. Kalau memang kakak adik, seperti yang awalnya saya duga, berarti mereka telah melakukan hubungan incest alias berhubungan dengan seseorang yang sedarah hingga punya anak.
Kedelapan, saat ditemukan olah sang ayah, ternyata mereka tidak mati? Hanya tidur? Oh my God... Dan sialnya masih teraneh2 dengan ceritanya, tiba-tiba saja tamat.
Kesimpulan saya, karena sebagian isi cerita sudah saya ceritakan diatas, bagi yang ingin menontonnya saya sarankan tidak usah membuang waktu anda yang berharga. Lebih baik cari film yang lebih berkualitas daripada menonton film ini. Memang sih banyak scene pantai di South Pacific yang indah. Tapi kalau melihat dari segi jalan cerita, Tidak saya rekomendasikan.
Saya beri 2 dari 5 bintang.
Entah kenapa tiba-tiba saja terpikir untuk menulis...
Kali ini aku mau membahas sebuah film. Jadi sedikit banyak mirip seperti resensi film kali ya? Yah, meskipun bukan dari sudut pandang seorang ahli cinematography, tapi sebagai penikmat dan penggemar film, ada kalanya pengen ngasih opini boleh kan?? :)
Setelah marathon film yang udah aku tonton selama sebulan ini,
Secara lagi demen2nya download film, ngga sengaja nemu salah satu film ini di YouTube.
Sebelum download seperti biasa aku cari resensi ceritanya dulu. So far, sepertinya oke, karena ngga ada yang complain juga.. Jadilah aku download tuh film, dengan harapan memang bagus filmya.
Judul filmya, "The Blue Lagoon"
Film ini aku dapet dari rekomendasi IMDb untuk kategori film dewasa yang tanpa disuguhi adegan vulgar. Memang ada banyak judul yang ditawarkan, tapi rata2 ngga ada yang menyediakan free download nya hehehe maklum kan saya maunya yang gratisan behehehehe :P
Kenapa film ini menarik perhatian saya untuk mendownloadnya, adalah karena cerita ini ber-setting daratan Pasifik Selatan (South Pacific) yang notabene,sekarang aku tinggal disini. Jadi penasaran dong? Negara bagian mana kira2 yang dijadikan lokasi film ini diambil.
Tapi eh tapi, ternyata, disini sama sekali ngga dibahas sebenarnya mereka itu ada di Pasifik Selatan bagian mana? Errrrgggh...
Cerita singkatnya gini,
Pada suatu hari ada sebuah kapal laut yang berlayar kalau ngga salah mau ke San Francisco. Ditengah perjalanan, kapal mereka kebakaran. Sepertinya api berasal dari dapur kapal tersebut. Kebakaran seperti tidak dapat dicegah, karena seketika saja api mendadak menjadi besar. Semua penumpang kapal pun berhamburan menyelamatkan diri dengan sekoci seadanya.
Sialnya, ada satu keluarga yang terpisah dari orang tuanya. Lebih tepatnya dengan ayahnya. Karena di cerita tersebut sepertinya anak2 ini tidak memiliki ibu. Mereka berada di sekoci yang berbeda.
Ayah mereka ikut dengan sekoci yang berisi awak kapal yang semuanya orang dewasa. Sementara, kedua anaknya yang satu bernama Richard, dan yang perempuan saya lupa namanya hehe, mereka berada dalam sekoci yang lain, yang ditemani oleh salah seorang koki dari kapal tersebut. Jadi, di sekoci tersebut, mereka hanya bertiga saja.
Kebakaran di kapal tersebut semakin besar, hingga akhirnya membuat kapal tersebut perlahan-lahan tenggelam ke dasar lautan Pasifik. Hanya menyisakan asap tebal di sekitar lokasi. Kedua sekoci itu tentu saja mendayung sejauh-jauhnya dari kobaran api kapal yang terbakar tersebut.
Ketika seluruh badan kapal telah tenggelam dan hanya menyisakan asap tebal, ayah mereka berteriak memanggil nama mereka. Sebetulnya mereka pun mendengar teriakan ayahnya tersebut. Namun, karena asap yang sedikian tebal, sehingga sulit bagi mereka untuk mengetahui dimana sebenarnya keberadaan ayah mereka? Kedua sekoci itu terus mendayung dan mendayung. Sayangnya, mereka bukannya semakin mendekat, justru malah semakin menjauh. Dan akhirnya mereka benar-benar terpisah satu sama lainnya.
Sang koki kapal terus saja mendayung, hingga mereka menemukan sebuah pulau. Alangkah senangnya mereka. Setidaknya mereka tidak akan mati kelaparan dan kehausan di belantara samudera nan luas.
Akhirnya, mereka pun merapat ke pulau tersebut.
Disana, sang koki membuat tenda darurat yang terbuat dari anyaman pohon kelapa. Hingga malamnya, mereka membuat api unggun. Sebenarnya sang koki ini, awalnya sangat galak kepada kedua anak ini, karena mereka terlalu banyak bicara dan terus saja melontarkan banyak pertanyaan seperti lazimnya anak kecil. Belum lagi, tepat sebelum kapal mereka terbakar, kedua anak ini kedapatan sedang membuka koleksi foto porno milik sang koki di kamar tidurnya. Tapi, takdir berkata lain, sang koki justru sekarang malah harus berada dalam situasi dimana dia hanya akan bertiga saja dengan kedua bocah itu, setidaknya sampai mereka mendapat bantuan dari kapal lain yang mungkin akan kembali lewat.
Malam pertama, terlewati dengan tanpa masalah. Mereka bisa makan, tidur, dengan damai. Sebelumnya, dalam sekoci mereka, sempat membawa sebuah peti yang entah berisi apa, tak terlalu diperlihatkan ke penonton. Peti itu diambil saat mengapung di permukaan laut, tentu saja peti itu bersala dari kapal mereka juga.
Keesokan harinya, mereka mulai menjelajahi pulau itu. Ingin tahu apa saja yang bisa mereka peroleh dari dalam pulau tersebut. Ketika mereka mulai masuk ke dalam hutan. Ketika tiba-tiba saja si anak perempuan kedapatan sedang memakan buah berry yang entah dia dapat dari mana. Dengan serta merta sang koki membentak anak itu untuk memuntahkan buah itu. Dia berkata bahwa buah itu akan membuatnya tertidur dan tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya.
Di dalam hutan, mereka menemukan sebuah sungai dengan air terjun yang indah. Mereka sangat senang, bermain air layaknya anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. Hebatnya lagi, diatas air terjun, sang koki menembukan banyak sekali buah pisang. (FYI, di South Pacific itu buah pisang emang banyak banget, hehe)
Mereka makan buah, dan bermain air dengan riang gembira.
Keesokan harinya, sang koki berangkat sendiri kedalam hutan. Anak-anak menunggu di gubuk. Tanpa diduga, sang koki melihat ada sebuah patung besar ditengah hutan, dengan sebuah meja batu di depannya. Dia mengintip dari kejauhan, ternyata di atas meja batu tersebut ada potongan-potongan daging yang sepertiya adalah daging manusia. Sang koki kaget dan takut bukan kepalang. Ia berlari sekencang-kencangnya lagi ke arah pantai.
Sesampainya di gubuk mereka, sang koki berpesan agar jangan sampai mereka berani-berani masuk ke dalam hutan. Ia berkata di dalam hutan ada seorang monster jahat. Tentu saja kedua anak polos itu percaya begitu saja, dan mereka berjanji untuk tidak akan pernah berani memasuki hutan sendirian, maupun pergi ke pulau lainnya sekalipun.
Malam berlalu. Keesokan paginya, sang koki berenang ke pulau seberang. Namun, kedua anak ini tidak mengetahui bahwa sang koki sejak subuh sudah meninggalkan mereka bahkan sebelum mereka bangun tidur. Entah atas dasar apa sang koki pergi ke pulau seberang. Mungkin ia ingin mencari makanan tetapi tidak dijelaskan mengapa dan apa motivasinya berenang subuh2 ke pulau di seberang dari pulaunya bermalam.
Hingga siang, sang koki tidak kembali juga. Ketika anak2 ini bangun, mereka pun tentu saja mencari dimana keberadaan sang koki, akhirnya Richard berinisiatif untuk mencari sang koki ke pulau seberang dengan menggunakan sekoci. Sampai di pulau seberang bersama adiknya, ia menjumpai sang koki berada di pantai seperti sedang tertidur. Lalu mereka menggodanya. "Hei, bangun, bangun!" dengan sedikit tertawa-tawa.
Namun, saat membalikkan tubuh sang koki, ternyata sang koki telah tewas dengan mata melotot. Spontan sang adik pingsan di tempat. Karena merasa takut, Richard membawa adiknya, dan segera pergi meninggalkan pulau tersebut.
Keesokan paginya, Richard berusaha mencari ikan sendiri untuk mereka makan. Mereka berenang dengan bebas di pantai nan indah dengan dasar laut yang bening. Hari-hari berlalu. Mereka akhirnya sudah tumbuh menjadi sepasang remaja.
Hidup berdua di sebuah pantai. Kali ini, rumahnya sudah jauh lebih besar dari sebelumnya. Sang adik sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang selalu bergaun putih, dengan rambut panjang terurai. Mirip foto model.
Sedang Richard berpakaian ala koteka persis tarzan. Tetapi dengan rambut lebih pendek.
Hari-hari berlalu, samapi akhirnya mereka berdua jatuh hati. Dan pada suatu malam mera bercinta. Hingga akhirnya sang gadis hamil. Pernah suatu hari sang gadis main ke dalam hutan, Ia kemudian menemukan patung besar yang pernah dilihat oleh sang koki sebelumnya. Namun disana tidak ada orang sama sekali. Ia berpikir mungkin patung ini adalah Tuhan?
Akhirnya, pada kesempatan yang lain, ia memberi tahukan hal ini pada Richard. Mereka pun sesekali mendatangi patung itu. Hingga suatu malam, ia ingin mengunjungi "Tuhan"-nya. Ternyata disana sedang ada sebuat ritual suku pedalaman, dimana saat itu, dilakukan pula prosesi penumbalan. Mereka menyaksikan sendiri, seseorang di penggal kepalanya di atas meja batu.
Karena ketakutan, mereka berlari ke rumah.
Keesokan harinya, mereka menjalanai hari-hari seperti biasanya. Mencari ikan, dll. Hingga sang gadis melahirkan. Mereka pun memiliki anak sekarang.
Pada suatu hari, saat sang anak sudah mulai besar, kira-kira berusia setahun. Mereka naik sekoci kesayangannya itu entah mau kemana, kalau tidak salah mau ke pulau seberang. Tiba2 mereka baru menyadari ternyata, anak mereka sedang makan buah berry yang dahulu pernah dilarang oleh sang koki untuk memakannya.
Betapa kaget sang ibu melihat anaknya makan buah ini. Namun sayang, dia telah menelan buah tersebut sebagian. Dan tak lama kemudian sang anak tertidur. Karena merasa anak mereka mati, akhirnya sang ibu dan ayahnya (Richard) sama-sama makan buah itu, agar mereka mati bersama di atas sekoci itu.
Ternyata, ada sebuah kapal besar yang sedang berlayar. Di dalam kapal itu tamapak sesosok kakek tua yang sibuk melemparkan pandangannya ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu. Ternyata dia adalah ayah yang terpisah saat mereka kecil. Salah seorang awak kapal berteriak, "Ada kapal! Ada kapal!"
Kemudian kapal meraka pun berhenti dan mendekatinya dengan sekoci kecil. Ternyata isi dari kapal kecil itu tidak lain dan tidak bukan adalah anaknya, dan juga cucunya yang sedang memejamkan mata, bertiga.
Sang ayah bertanya pada salah satu awaknya,"Apakah mereka mati?" sang awak kapal menjawab, "Tidak Pak, mereka hanya tertidur"
Kemudian TAMAT
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Okay, sekarang ini pendapat saya ya.....
*peletekin jari dulu*
Panjang juga tuh sinopsis apa isi cerita semua ya? haha
Menurut saya film ini sangat membosankan. Tidak ada greget yang berarti. Coba bayangkan, di dalam sebuah pulau yang berisi suku kanibal, kenapa tidak diangkat cerita misalnya meraka tertangkap suku tersebut dan hampir saja menjadi tumbal?
Yang kedua, apa mungkin selama belasan tahun hidup di pulau itu tidak ada seorang pun penduduk pulau (suku) yang menemukan bahwa ada orang asing yang tinggal di pantai mereka? Apalagi dengan rumah yang lumayan besar?
Ketiga, dikisahkan mereka belum pernah masuk kedalam pulau, hanya berada di sekitar pantai saja sampai mereka dewasa, lalu bagaimana mungkin ia bisa membuat rumah dengan begitu besarnya? Terbuat dari kayu dan bambu. Apakah bambu adalah tanaman pantai? Bukan.
Keempat, dari mana sang gadis mendapatkan banyak sekali baju2 bagus? Apakah dari peti yang ditemukan saat mereka terdampar? Tidak dijelaskan.
Kelima, rambut sang gadis senantiasa rapi, memangnya dia punya sisir? Dia sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang telah lama terdampar dan jauh dari peradaban manusia. Coba lihat film "Cast Away" dengan aktornya Tom Hanks kalau tidak salah saya lupa, bagaimana ia jadi berubah menjadi hampir seperti orang gila, karena tidak punya temann bicara, tidak pernah mencukur rambut, membersihkan kumis dan jenggot..
Keenam, kematian sang koki di seberang pulau tidak dibahas hingga akhir cerita. Membuat penonton mati penasaran, sebenarnya apa penyebab kematiannya????
Ketujuh, yang paling fatal adalah, tidak diketahui sebenarnya apa hubungan antara dua orang ini. Apakah kakak adik? Sepupu? Hanya teman biasa? Ngga jelas. Kalau memang kakak adik, seperti yang awalnya saya duga, berarti mereka telah melakukan hubungan incest alias berhubungan dengan seseorang yang sedarah hingga punya anak.
Kedelapan, saat ditemukan olah sang ayah, ternyata mereka tidak mati? Hanya tidur? Oh my God... Dan sialnya masih teraneh2 dengan ceritanya, tiba-tiba saja tamat.
Kesimpulan saya, karena sebagian isi cerita sudah saya ceritakan diatas, bagi yang ingin menontonnya saya sarankan tidak usah membuang waktu anda yang berharga. Lebih baik cari film yang lebih berkualitas daripada menonton film ini. Memang sih banyak scene pantai di South Pacific yang indah. Tapi kalau melihat dari segi jalan cerita, Tidak saya rekomendasikan.
Saya beri 2 dari 5 bintang.
0 komentar on "Resensi Film "The Blue Lagoon""
Posting Komentar
any comment??